Thursday, August 23, 2012
Tuesday, May 08, 2012
TULISAN 5
ENAM LANGKAH MANAJEMEN RISIKO
Manajemen risiko adalah suatu proses
mengidentifikasikan dan mengukur harta, hutang, dan personil dari risiko murni.
Enam langkah yang termasuk dalam proses manajemen risiko adalah :
1. Menemukan tujuan perusahaan/keluarga dalam mencapai proses manajemen risiko.
2. Setelah tujuan diterapkan maka manajer risiko harus mengidentifikasikan kerugian kerugian dari perusahaan atau keluarga. Identifikasi risiko ini mungkin merupakan fungsi yang paling sulit dilakukan oleh seorang manjer risiko. Kesaahan alam mengidentifikasikan seluruh hal-hal yang ada dalam keluarga menyebabkan manajer risiko tidak memiliki kesempatan dan mengetahui kerugian yang tidak diketahui secara ilmiah.
3. Langkah berikut yang penting adalah mengukur kerugian yang potensial selama periode anggaran. Yang termasuk dalam pengukuran ini yaitu;
1. Menemukan tujuan perusahaan/keluarga dalam mencapai proses manajemen risiko.
2. Setelah tujuan diterapkan maka manajer risiko harus mengidentifikasikan kerugian kerugian dari perusahaan atau keluarga. Identifikasi risiko ini mungkin merupakan fungsi yang paling sulit dilakukan oleh seorang manjer risiko. Kesaahan alam mengidentifikasikan seluruh hal-hal yang ada dalam keluarga menyebabkan manajer risiko tidak memiliki kesempatan dan mengetahui kerugian yang tidak diketahui secara ilmiah.
3. Langkah berikut yang penting adalah mengukur kerugian yang potensial selama periode anggaran. Yang termasuk dalam pengukuran ini yaitu;
·
Kemungkinan
atau kesempatan bahwa kerugian tersebut akan terjadi
·
Pengaruh
dari kerugian tersebut
·
Kemampuan
untuk memperkirakan kerugian-kerugian yang besar yang benar-benar akan terjadi.
Proses pengukuran ini penting karena dapat mengidentifikasikan terhadap hal-hal
yang benar-benar serius dalam perusahaan.
4. Langkah berikutnya manajer risiko
harus memilih kombinasi yang terbaik dari teknik yang digunakan dalam
memecahkan masalah tersebut yang termasuk dalam teknik ini yaitu:
·
Menghindari
exposure
·
Mengurangi
kesempatan bahwa kerugian akan terjadi atau bila hal-hal tersebut terjadi maka
kurangi besarnya kerugian
·
Memindahkan
kerugian yang potensial kepada bagian yang lain
·
Mengurangi
kerugian-kerugian tersebut
5. Setelah memutuskan alternative
teknik dari risiko maka manajer risiko harus menerapkan keputusan yang dibuat.
6. Hasil dari keputusan yang telah dibuat harus
diawasi untuk mengevaluasi dari keputusan tersebut.Nugroho, Widyo dkk.1999.Asuransi dan Manajemen Risiko.Jakarta:Penerbit Gunadarma
Wednesday, May 02, 2012
TEORI ORGANISASI MODERN
Teori ini
kadang disebut sebagai analisa system pada organisasi merupakan aliran besar
ketiga dalam teori organisasi dan manajemen. Teori modern melihat semua unsure organisasi
sebagai satu kesatuan dan saling ketergantungan yang didalamnya mengemukakan
bahwa organisasi bukanlah suatu system tertutup yang berkaitan dengan
lingkungan yang stabil akan tetapi organisasi merupakam system terbuka.
Teori modern
dikembangkan sejak tahun 1950 dalam banyak hal yang mendalam teori modern berbeda
dengan teori klasik perbedaan tersebut diantaranya adalah :
Teori klasik memusatkan
pandangannya pada analisa dan deskripsi
organisasi
Sedangkan
Teori modern dengan tekanan pada
perpaduan dan perancangan menjadikan pemenuhan suatu kebutuhan yang menyeluruh.
- Teori klasik telah membicarakan
konsep koordinasi, scalar dan vertical, sedangkan teori modern lebih dinamis
dari pada teori lainnya dan meliputi lebih banyak variabel yang
dipertimbangkan.
Teori modern menyebutkan bahwa kerja suatu organisasi adalah sangat
kompleks, dinamis, multilevel, multidimensional, multivariable, dan probabilistic.
Dengan analisa system teori organisasi modern mencoba untuk mencari jawaban
atas pertanyaan yang saling berhubungan.
Pertanyaan kunci tersebut diantaranya adalah ;
- Apa yang merupakan bagian-bagian
strategis system
- Apa yang menyebabkan mereka saling
bergantung
- Proses-proses inti apa yang
menghubungkan bagian-bagian secara bersama-sama dan memberikan penyesuaian satu
sama lain.
- Tujuan apa yang hendak dicapai
melalui system
Konsep system umum menjadi dasar utama analisa organisasi dalam teori
modern, dan secara ringkas kedua teori ini baik teori modern maupun teori system
umum mempelajari;
- Bagian-bagian dalam keseluruhan dan
pergerakan individu didalam dan diluar system
- Interaksi individu-individu dengan
lingkaran yang terjadi dalam system
- Interaksi diantara individu-individu
dalam system
- Masalah-masalah pertumbuhan dan
stabilitas system.
Teori modern menunjukkan tiga kegiatan proses hubungan universal yang
selalu muncul pada system manusia dalam perilakunya berorganisasi yaitu;
- Komunikasi
- Konsep keseimbangan
- Proses pengambilan keputusan
Perkembangan teori organisasi yang telah dibahas, memberikan dasar
munculnya berbagai pendekatan manajemen yang berbeda-beda adapun
pendekatan-pendekatan manajemen tersebut adalah ;
- Pendekatan proses ;
- Pendekatan keprilakuan ;
- Pendekatan kuantitatif ;
- Pendekatan system;
- Pendekatan situasional.
Amperaningrum, Izzati dan Widyatmini.1994.Pengantar Organisasi & Metode.Jakarta:Penerbit Gunadarma
Teori Organisasi
2.
Teori Neoklasik
Teori ini
secara sederhana dikenal sebagai teori atau aliran hubungan manusiawi (The
Human Relation Movement). Teori neoklasik ini dikembangkan atas teori klasik. Anggapan
dasar teori ini adalah menekankan pentingnya aspek psikologis dan social karyawan
sebagai individu maupun sebagai bagian kelompok kerjanya, atas dasar anggapan
inilah maka teori neoklasik mendefinisikan “suatu organisasi” sebagai
sekelompok orang dengan tujuan bersama. Perkembangan teori ini dimulai dengan inspirasi
percobaab-percobaan yang dilakukan di Howthorne dan dari tulisan Huga
Munsterberg.
Hugo
Munsterberg dikenal sebagai pencetus psikologi industry dan tulisannya yang
menonjol dalambuku yang berjudul Psychology and Industrial Efficiency tahun
1913. Buku ini merupakan jembatan penting antara manajemen ilmiah dan
perkembangan lebih lanjut dari teori neoklasik. Dalam hal ini, Munsterberg
menekankan adanya beberapa perbedaan karakteristik individual dalam organisasi
dan mengingatkan adanya pengaruh factor social dan budaya terhadap organisasi.
Percobaan-percobaan
di Howthorne yang dilakukan dari tahun 1924 samapai 1932 menandai adanya
permulaan perkembangan teori hubungan manusiawi. Percobaan ini merupakan
kristalisasi teori neoklasik. Penemuan-penemuan Howthorne telah menambah
dimensi-dimensi baru dan esensial bagi teori organisasi. Didalam studi
Howthorne tersebut telah memperkenalkan gagasan bahwa organisasi adalah suatu system
terbuka dimana segmen teknis dan manusiawi saling berkaitan erat. Dan pada
akhirnya percobaan-percobaan Howthorne menunjukkan bagaimana kegiatan
kelompok-kelompok kerja kohesif sangat berpengaruh pada operasi organisasi.
Dalam hal
pembagian kerja, teori neoklasik telah mengemukakan perlunya hal-hal sebagai
berikut :
-
Partisipasi
-
Perluasan kerja
-
Manajemen Bottom-Up
Amperaningrum, Izzati dan Widyatmini.1994.Pengantar Organisasi &
Metode.Jakarta:Penerbit Gunadarma
Subscribe to:
Posts (Atom)


