Sunday, March 11, 2012

MATERI 7 : PERTUMBUHAN ORGANISASI DAN EFEKTIVITAS ORGANISASI


1. Pertumbuhan Organisasi
      Ada empat cara pertumbuhan organisasi , yaitu melalui kegiatan :
         1) Ekspansi.
         2) Diversifikasi.
         3) Pengembangan Teknologi.
         4) Perbaikan Teknik Manajerial.
1. Ekspansi
    Strategi ekspansi dipakai oleh Philip Morris pada saat membeli Kraft,sehingga membuat Philip Morris menjadi lebih besar dalam industri makanan.
2. Diversivikasi
   Pertumbuhan ini muncul dari berbagai macam bentuk usaha, seperti pengembangan produk dan jasa yang baru, integrasi vertical dan diversifikasi konglomerasi.Contohnya adalah Paramount Communications yang memiliki berbagai bidang usaha, sepertiParamount Pictures, tim bola basket New York Knicks dan penerbit Simon and Schuster.
3. Pengembangan Teknologi
    Pertumbuhan ini muncul dari dampak aplikasi pengembangan teknologi sebuah organisasi, seperti Federal Express yang tumbuh dengan cepatsebagai akibat penggunaan teknologi komputer dari mulai penerimaan paket sampai penyampaian paket ke konsumen.
4. Perbaikan Teknik Manajerial
    Pertumbuhan ini muncul sebagai dampak dari prosesmanajemen yang dimodifikasi dan diperbaiki sehingga menimbulkan efisiensi. Contohnyaadalah IBM yang mempunyai kader manajer yang handal dan memberikan kontribusi terhadap proses manajemen, sehingga memberikan daya dorong yang luar biasa bagi pertumbuhanorganisasi.Model Pertumbuhan Organisasi
Pada permulaan tahun 1970-an Larry Greiner menyatakan bahwa evolusi organisasidikarakteristikkan oleh tahap pertumbuhan yang panjang dan tenang yang selanjutnya disebutevolusi, kemudian diikuti oleh periode kekacauan yang disebut revolusi. Model pertumbuhanorganisasi meliputi lima tahap, yaitu sebagai berikut :

1) Kreativitas

2) Pengarahan
3) Pendelegasian
4) Koordinasi
5) Kerjasama.

Tahap 1 : Kreativitas
    Kreativitas para pendiri organisasi merupakan tahap awal darievolusi suatu organisasi. Bentuk kreativitas ini biasanya dalam mengembangkan produknya dan pasar. Disain organisasi pada tahap ini masih merupakan struktur sederhana dan pengambilankeputusan dikontrol oleh manajer-pemilik atau top manajemen. Komunikasi antar tingkatan didalam organisasi berlangsung intensif dan informal.Krisis yang muncul pada tahap awal pertumbuhan organisasi adalah krisiskepemimpinan, karena manajer sukar mengelola organisasi dengan hanya mengandalkan padakomunikasi informal. Oleh karena itu diperlukan manajemen profesional yang dapatmemperkenalkan dan mengimplementasikan manajemen dan tehnik organisasi yang makinkompleks.
Tahap 2 : Pengarahan
     Pada tahap pengarahan desain organisasi makin birokratis,komunikasi antar tingkatan menjadi formal dan spesialisasi pekerjaan mulai diterapkan, sepertiaktivitas produksi dan pemasaran. Pengambilan keputusan pada tahap ini bermuara padamanajemen baru dan manajer tingkat bawah tidak diikut sertakan. Keadaan ini akanmenimbulkan krisis otonomi, dimana manajer tingkat bawah akan mencari pengaruh yang lebih besar di dalam pengambilan keputusan. Pada prinsipnya solusi dari krisis otonomi tersebutadalah pendesentralisasian pengambilan keputusan.
Tahap 3 : Pendelegasian
    Pada tahap pendelegasian manajer tingkat bawah mempunyaiotonomi yang lebih besar dalam menjalankan aktivitas unit kerjanya, sedangkan top manajemenlebih berkonsentrasi pada perencanaan strategis jangka panjang. Krisis yang muncul dari tahap pendelegasian adalah krisis kontrol, karena manajer tingkat bawah merasa nyaman denganotonomi yang diberikan, sedangkan top manajemen merasa takut organisasi akan dibawa ke berbagai arah. Oleh karena itu diperlukan suatu cara dalam mengelola jalannya roda organisasi.
Tahap 4 : Koordinasi
    Tahap ini muncul sebagai akibat dari krisis kontrol pada tahap pendelegasian. Koordinasi sangat diperlukan oleh manajer lini dari unit-unit staf dan kelompok-

kelompok produk dalam menjalankan fungsinya. Namun adanya koordinasi juga menimbulkankonflik garis-staf yang menyita banyak waktu dan energi, sehingga muncul krisis birokrasi.

Tahap 5 : Kerjasama
    Jalan keluar dari krisis birokrasi pada tahap koordinasi adalahkerjasama yang kuat antar individu di dalam organisasi. Budaya organisasi menjadi substitusi bagi kontrol formal manajemen organisasi. Struktur organisasi bergerak ke arah bentuk organik.Gambar 1. Model Pertumbuhan Organisasi, Larry Greiner (1970).Model pertumbuhan organisasi sebagaimana gambar 1, menunjukkan paradoks bahwatahapan pertumbuhan organisasi menimbulkan masalah tersendiri. Setiap tahap pertumbuhanmemunculkan krisis yang baru dan setiap krisis mengharuskan manajemen melakukan penyesuaian alat koordinasi, sistem kontrol dan disain organisasi.

2. PENGERTIAN EFEKTIFITAS ORGANISASI

 Organisasi adalah merupakan kumpulan dari individu dan kelompok sehingga keefektifan organisasi pada dasarnya adalah merupakan fungsi dari keefektifan individu dan kelompok. Secara lebih sederhana organisasi adalah kesatuan susunan yang terdiri dari sekelompok oarang yang mempunyai tujuan yang sama, yang dapat dicapai secara bersama, dimana dalam melakukan tindakan itu ada pembagian tugas, wewenang dan tanggung jawab bagi tiap-tiap personal yang terlibat didalamnya untuk mencapai tujuan organisasi. 
Organisasi biasanya berada dalam lingkungan yang bergolak dengan sumberdaya terbatas, lingkungan yang berubah-ubah sesuai dengan perkembangan zaman, perubahan tersebut akan memepengaruhi efektivitas organisasi. Dalam lingkungan demikian organisasi harus tanggap dan pandai mengantisipasi perubahan agar organisasi tersebut tetap dapat mempertahankan keberadaannya (exist) dan dapat berfungsi (functional). Agar organisasi dapat mempertahankan keberadaannya dan dapat berfungsi, maka organisasi itu haruslah efektif.
Untuk menilai apakah organisasi itu efektif atau tidak, ada banyak pendapat antara lain mengatakan bahwa suatu organisasi efektif atau tidak, secara keseluruhan ditentukan oleh apakah tujuan organisasi itu tercapai dengan baik atau sebaliknya. Teori yang paling sederhana ialah teori yang berpendapat bahwa efektivitas organisasi sama dengan prestasi organisasi secara keseluruhan, pandangan yang juga penting adalah teori yang menghubungkan tingkat kepuasan para anggotanya. Menurut teori ini sesuatu organisasi dikatakan efektif bila para anggotanya merasa puas. Akhir-akhir ini berkembang suatu teori atau pandangan yang lebih komprehensif dan paling umum dipergunakan dalam membahas persoalan efektivitas organisasi adalah kriteria flexibility, productivity dan satisfaction.
Dengan melihat organisasi sebagi sistem, usaha membahas efektivitas organisasi secara lebih komprehensif menjadi lebih mungkin. Memang dalam kenyataan sangatlah sulit melihat atau mempersamakan efektivitas organisasi dengan tingkat keberhasilan dalam pencapaian tujuan. Hal ini disebabkan selain karena selalu ada penyesuaian dalam target yang akan dicapai, juga dalam proses pencapaiannya sering sekali ada tekanan dari keadaan sekeliling. Kenyataan tersebut selanjutnya menyebabkan bahwa jarang sekali target dapat tercapai secara keseluruhan. Adam I. Indrawijaya. (2000:227). 
Menurut Soekarno K. (1986:42) efektif adalah pencapaian tujuan atau hasil dikehendaki tanpa menghiraukan faktor-faktor tenaga, waktu, biaya, fikiran alat dan lain-alat yang telah dikeluarkan/ digunakan. Hal ini berarti bahwa pengertian efektivitas yang dipentingkan adalah semata-mata hasil atau tujuan yang dikehendaki. Jadi pengertian efektivitas kinerja organisasi adalah pencapaian tujuan atau hasil yang dilakukan dikerjakan oleh setiap individu secara bersama-sama. Yakni efektivitas individual adalah harus merupakan sebab dari kelompok, begitu pula tidak dapat dikatakan bahwa efektivitas kelompok adalah jumlah dari efektivitas individu. Hubungan antara pandanganpandangan tersebut berubah-ubah tergantung dari faktor-faktor seperti jenis organisasi, pekerjaan yang dilaksanakan, teknologi yang digunakan dalam melaksanakan pekerjaan tersebut.
Berdasarkan kajian histories tentang perkembangan konsep keefektifan organisasi  dapat dilihat pada awalnya sekitar tahun 1950-an, dimana keefektifan diartikan secara sederhana sebagai sejauh mana sebuah organisasi mewujudkan tujuan-tujuannya.
Keefektifan organisasi dapat didefinisikan sebagai tingkatan pencapaian organisasi atas tujuan jangka panjang dan tujuan jangka pendek.
II. PENDEKATAN-PENDEKATAN KEEFEKTIFAN ORGANISASI
  1. Pendekatan Pencapaian Tujuan (goal attainment approach)
Pendekatan pencapaian tujuan mengasumsi bahwa organisasi adalah kesatuan yang dibuat dengan sengaja, rasional, dan mencari tujuan. Oleh karena itu, pencapaian tujuan yang berhasil menjadi sebuah ukuran yang tepat tentang keefektifan. Namun demikian agar pencapaian tujuan bisa menjadi ukuran yang sah dalam mengukur keefektifan organisasi, asumsi-asumsi lain juga harus diperhatikan. Pertama, organisasi harus mempunyai tujuan akhir. Kedua, tujuan-tujuan tersebut harus diidentifikasi dan ditetapkan dengan baik agar dapat dimengerti. Ketiga, tujuan-tujuan tersebut harus sedikit saja agar mudah dikelola. Keempat, harus ada consensus atau kesepakatan umum mengenai tujuan-tujuan tersebut.
Beberapa permasalahan dalam pendekatan ini antara lain adalah :
  1. apa yang dinyatakan secara resmi oleh sebuah organisasi sebagai suatu tujuan tidak selalu mencerminkan tujuan yang sebenarnya.
  2. Tujuan jangkan pendek sering kali berbeda dengan tujuan jangka panjangnya.
  3. Organisasi yang memiliki tujuan majemuk akan menciptakan kesulitan.
  1. Pendekatan Sistem (system approach)
Pendekatan system terhadap efektifitas organisasi mengimplikasikan bahwa organisasi terdiri dari sub-sub bagian yang saling berhubungan. Jika slah satu sub bagian ini mempunyai performa yang buruk, maka akan timbul dampak yang negative terhadap performa keseluruhan system.
Keefektifan membutuhkan kesadaran dan interaksi yang berhasil dengan konstituensi lingkungan. Manajemen tidak boleh gagal dalam mempertahankan hubungan yang baik dengan para pelanggan, pemasok, lembaga pemerintahan, serikat buruh, dan konstituensi sejenis yang mempunyai kekuatan untuk mengacaukan operasi organisasi yang stabil.
Kekurangan yang paling menonjol dari pendekatan system adalah hubungannya dengan pengukuran dan masalah apakah cara-cara itu memang benar-benar penting. Keunggulan akhir dari pendekatan system adalah kemampuannya untuk diaplikasikan jika tujuan akhir sangat samara atau tidak dapat diukur.
  1. Pendekatan Konstituen-Strategis (strategic-constituencies approach)
Pendekatan konstituensi-strategis memandang organisasi secara berbeda. Organisasi diasumsikan sebagai arena politik tempat kelompok-kelompok yang berkepentingan bersaing untuk mengendalikan sumber daya. Dalam konteks ini, keefektifan organisasi menjadi sebuah penilaian tentang sejauh mana keberhasilan sebuah organisasi dalam memenuhi tuntutan konstituensi kritisnya yaitu pihak-pihak yang menjadi tempat bergantung organisasi tersebut untuk kelangsungan hidupnya di masa depan.
Kekurangan dari pendekatan ini adalah dalam praktik, tugas untuk memisahkan konstituensi strategis dari lingkungan yang lebih besar mudah untuk diucapkan, tetapi sukar untuk dilaksanakan. Karena lingkungan berubah dengan cepat, apa yang kemarin kritis bagi organisasi mungkin tidak lagi untuk hari ini. Dengan mengoperasikan pendekatan konstituensi strategis, para manajer mengurangi kemungkinan bahwa mereka mungkin mengabaikan atau sangat mengganggu sebuah kelompok yang kekuasaannya dapat menghambat kegiatan-kegiatan sebuah organisasi secara nyata.
  1. Pendekatan Nilai-nilai Bersaing (Competing-values approach)
Nilai-nilai bersaing secara nyata melangkah lebih jauh dari pada hanya pengakuan tentang adanya pilihan yang beraneka ragam. Pendekatan tersebut mengasumsikan tentang adanya pilihan yang beraneka ragam. Pendekatan tersebut mengasumsikan bahwa berbagai macam pilihan tersebut dapat dikonsolidasikan dan diorganisasi. Pendekatan nilai-nilai bersaing mengatakan bahwa ada elemen umum yang mendasari setiap daftar criteria Efektifitas Organisasi yang komprehensif dan bahwa elemen tersebut dapat dikombinasikan sedemikian rupa sehingga menciptakan kumpulan dasar mengenahi nilai-nilai bersaing. Masing-masing kumpulan tersebut lalu membentuk sebuah model keefektifan yang unik.

http://muzakki82.wordpress.com/2010/03/23/efektifitas-organisasi/

Monday, January 09, 2012

TUGAS 4



LAPORAN SURVEI ORGANISASI

  
HANIFAH TRI ASTUTI (33111196)

UNIVERSITAS GUNADARMA
2011






Narasumber       : Udin Syamsudin
Pewawancara   : Nisrina Sumarno
Hari/ Tanggal     : Selasa, 3 Januari 2012


1.        Kenapa diberi nama Tarung Derajat?
Jadi sang guru besar ini melihat dari definisi nya masing-masing tarung itu bertarung, derajat itu derajat jadi bertarung untuk mempertahankan derajat atau menaikan derajat.

2.       Siapa pendiri dari Tarung Derajat untuk pertama kalinya?
Namanya Ahmad Derajat disebut juga guru besar atau pencipta dari Tarung Derajat ini.

3.       Siapa pendiri Tarung Derajat di wilayah DepSos ini?
Tarung Derajat bukan organisasi milik pribadi kita diutus oleh pelatih utama untuk cabang di Bekasi namanya Kang Rosyin. Pada tahun 2006 saya, kang basri dan kang adam menjadi pengurus di bekasi. Saat seorang dari kita berhalangan hadir, setidaknya organisasi tersebut tetap akan berjalan dengan dua orang lainnya.

4.      Apa arti manajemen dalam organisasi tarung derajat?
Kalau di tarung derajat sama saja manajemennya seperti organisasi lain. Karena sekarang bisa masuk ke ekshibisi Sea Games 2011 itu sendiri karena manajemen kita yang bagus.

5.       Apa dalam organisasi tarung derajat ini, manajemen organisasinya sudah berjalan dengan sesuai?
Kalau di tingkat nasional sendiri manajemen organisasinya berjalan sampai ke akar yang paling kecil yaitu satuan latihan (satlat) dari semua organisasi sudah ada koordinatornya masing-masing.
Sebagai contoh, di wilayah jawa barat tiap-tiap wilayah ada koordinasi antar koordinatornya samapai ke bekasi termasuk pengurus cabang (pengcab) yang dipercayakan untuk mengurus sebuah cabang itu.

6.      Apa peran Anda dalam organisasi tersebut?
Kita disini berperan sebagai pengembang untuk pengurus cabang (pengcab) kota bekasi.

7.       Terkadang suka terjadi hambatan di dalam sebuah organisasi, apa dalam penyelesaiannya membutuhkan manajemen?
Hambatan itu pasti ada, sekarang kita berada di olahraga prestasi yang dituntut untuk berprestasi dari tiap wilayah atau cabang.
Hambatan yang pertama mungkin pengurus, penataan dan pembibitan seorang atlet.

8.      Kapan organisasi Tarung Derajat ini khususnya di DepSos sendiri didrikan?
Kira-kira tahun 2007 krena satlat di DepSos merupakan satlat yang paling kecil.

9.       Apa  visi dan misi dari organisasi Tarung Derajat ?
Visi dan misi di Tarung Derajat yang pertama kekeluargaan, olahraga, dan berprestasi dalam Tarung Derajat itu sendiri.




Kesimpulan

1.        Jadi organisasi Tarung Derajat ini merupakan organisasi olahraga yang manajemennya teratur dan sesuai sebagaimana mestinya.
2.       Organisasi ini mengedepankan koordinasi antar coordinator yang sudah di tempatkan sebelumnya sehingga tidak menimbulkan bentrok antar satlat yang biasa terjadi bila  kurangnya factor ini.
3.       Tidak terjadinya bentrok juga karena sifat kekeluargaan yang diterapkan karena di semua tempat organisasi Tarung Derajat itu sama, sama-sama dari sumber yang sama.
4.      Organisasi ini juga termasuk cukup pesat dalam perkembangannya berkata system manajemen dalam organisasi ini yang baik dan sesuai.






                             







                        ( Narasumber)

TUGAS 3




PENGANTAR MANAJEMEN

  
HANIFAH TRI ASTUTI

(33111196)


UNIVERSITAS GUNADARMA
2011



KATA PENGANTAR


Puji syukur kehadirat Allah SWT. yang dengan segala nikmatnya penulis dapat menyelesaikan tugas mata kuliah Manajemen Umum berupa makalah yang berjudul PENGANTAR MANAJEMEN
Dalam penyusunan tugas makalah ini tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi, namun kelancaran dalam penyelesaian tugas ini tidak lain berkat bantuan, dorongan dan bimbingan dari orang tua, dan kerabat penulis sehingga hambatan tersebut teratasi
Semoga materi ini dapat bermanfaat dan menjadi penambahan pemikiran bagi pihak yang membutuhkan, khususnya bagi penulis sehingga tujuan yang diharapkan tercapai. Amin.










Penulis








i
DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR                         …………………………………… i
DAFTAR ISI                                              …………………………………… ii

BAB I PENDAHULUAN
        I.1 LATAR BELAKANG                                      ……………………… 1
        I.2 RUMUSAN MASALAH                         ……………………… 1
        I.3 TUJUAN                                              ……………………… 1
I.4 METODE PENULISAN                          ……………………… 1
BAB II PEMBAHASAN
        II.1 PENGERTIAN MANAJEMEN                      ……………………… 2
        II.2 FUNGSI DAN TUJUAN MANAJEMEN        ……………………… 3
BAB III PENUTUP
        III.1 KESIMPULAN                                    ……………………… 6

DAFTAR PUSTAKA                           …………………………………... 7














ii

BAB I PENDAHULUAN

I.1 LATAR BELAKANG

Manajemen adalah proses kegiatan dengan melalui orang lain untuk mencapai suatu tujuan tertentu serta dilaksanakan secara berurutan berjalan kea rah suatu tujuan.

I.2  RUMUSAN MASALAH
1. Apa definisi dari manajemen?
2. apa fungsi dan tujuan manajemen?

I.3 TUJUAN
Tujuan dalam penulisan makalah ini adalah untuk menambah pengetahuan mengenai Pengantar Manajemen yang diharapkan  bermanfaat bagi seluruh pembaca.

I.4 METODE PENULISAN
Penulis mempergunakan metode kepustakaan. Penulis membaca dari sumber buku-buku dan artikel di internet yang berkaitan dengan penulisan makalah ini.









BAB II PEMBAHASAN

II.1 DEFINISI MANAJEMEN
1. Menurut Dr. SP. Siagian dalam buku “Filsafat Administrasi” Management dapat didefinisikan sebagai kemampuan atau keterampilan untuk memperoleh suatu hasil dalam rangka pencapaian tujuan melalui oranglain.
2. Menurut Prof. Dr. H. Arifin Abdulrachman dalam buku “Kerangka Pokok-Pokok Management” diartikan sebagai
· kegiatan-kegiatan/aktivitas-aktivitas,
· proses, yakni kegiatan dalam rentetan urutan-urutan,
· insitut/orang-orang yang melakukan kegiatan atau proses    kegiatan.
3. Menurut Ordway Tead yang disadur oleh Drs. HE. Rosyidi dalam buku “Organisasi dan Management “ mendefinisikan proses dan kegiatan pelaksanaan usaha memimpin dan menunjukkan arah penyelenggaraan tugas suatu organisasi di dalam mewujudkan tujuan yang telah ditetapkan.
4. Menurut Marry Parker Follet, manajemen adalah sebagai seni dalam menyelesaikan pekerjaan melalui oranglain.
5. Menurut James A.F. Stonner manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber-sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang ditetapkan.
6. Menurut Drs. Oey Liang Lee manajemen adalah seni dan ilmu perencanaan pengorganisasian, penyusunan, pengarahan dan pengawasan daripada sumberdaya manusia untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
7. Menurut  R. Terry Manajemen merupakan suatu proses khas yang terdiri dari tindakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengendalian yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran yang telah ditentukan melalui pemanfaatan sumberdaya manusia dan sumberdaya lainnya.
8. Menurut Lawrence A. Appley, Manajemen adalah seni pencapaian tujuan yang dilakukan melalui usaha orang lain.
9. Menurut Horold Koontz dan Cyril O’donnel manajemen adalah usaha untuk mencapai suatu tujuan tertentu melalui kegiatan orang lain.


II.2 FUNGSI DAN TUJUAN MANAJEMEN
II.2.A Menurut Para Ahli :


Keberhasilan suatu kegiatan atau pekerjaan tergantung dari manajemennya. Pekerjaan itu akan berhasil apabila manajemennya baik dan teratur, dimana manajemen itu sendiri merupakan suatu perangkat dengan melakukan proses tertentu dalam fungsi yang terkait. Maksudnya adalah serangkaian tahap kegiatan mulai awal melakukan kegiatan atau pekerjaan sampai akhir tercapainya tujuan kegiatan atau pekerjaan.


Pembagian fungsi manajemen menurut beberapa ahli manajemen, di antaranya yaitu :

1. Menurut Dalton E.M.C. Farland (1990) dalam “Management Principles and Management”, fungsi manajemen terbagi menjadi :
• Perencanaan (Planning).
• Pengorganisasian (Organizing).
• Pengawasan (Controlling).



2. Menurut George R. Ferry (1990) dalam “Principles of Management”, proses manajemen terbagi menjadi :

• Perencanaan (Planning).
• Pengorganisasian (Organizing).
• Pengawasan (Controlling).
• Pelaksanaan (Activating).



3. Menurut H. Koontz dan O’Donnel (1991) dalam “The Principles of Management”, proses dan fungsi manajemen terbagi menjadi :

• Perencanaan (Planning).
• Pengorganisasian (Organizing).
• Pengawasan (Controlling).
• Pengarahan (Directing).


4. Menurut Luther M. Gulick yang disadur oleh Dr. BN.Silalai

- Perencanaan (Planning);
- Mengorganisir (Organizing);
- Melengkapkan Tenaga Kerja (Staffing);
- Mengarahkan (Directing);
- Menyelaras/Mengkoordinir (Coordinating);
- Melaporkan (Reporting);
- Menyusun Anggaran (Budgeting).


5. Menurut Henry Fayol

- Perencanaan (Planning);
- Mengorganisir (Organizing);
- Memerintah (Commanding);
- Mengkoordinir (Coordinating);
- Mengawasi (Controlling).





II.2.B Fungsi Manajemen Pada Umumnya

Fungsi manajemen adalah elemen-elemen dasar yang akan selalu ada dan melekat di dalam proses manajemen yang akan dijadikan acuan oleh manajer dalam melaksanakan kegiatan untuk mencapai tujuan. Fungsi manajemen pertama kali diperkenalkan oleh seorang industrialis Perancis bernama Henry Fayol pada awal abad ke-20. Ketika itu, ia menyebutkan lima fungsi manajemen, yaitu merancang, mengorganisir, memerintah, mengordinasi, dan mengendalikan. Namun saat ini, kelima fungsi tersebut telah diringkas menjadi tiga, yaitu:

ð Perencanaan (planning) adalah memikirkan apa yang akan dikerjakan dengan sumber yang dimiliki. Perencanaan dilakukan untuk menentukan tujuan perusahaan secara keseluruhan dan cara terbaik untuk memenuhi tujuan itu. Manajer mengevaluasi berbagai rencana alternatif sebelum mengambil tindakan dan kemudian melihat apakah rencana yang dipilih cocok dan dapat digunakan untuk memenuhi tujuan perusahaan. Perencanaan merupakan proses terpenting dari semua fungsi manajemen karena tanpa perencanaan, fungsi-fungsi lainnya tak dapat berjalan.

ð Pengorganisasian (organizing) dilakukan dengan tujuan membagi suatu kegiatan besar menjadi kegiatan-kegiatan yang lebih kecil. Pengorganisasian mempermudah manajer dalam melakukan pengawasan dan menentukan orang yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas-tugas yang telah dibagi-bagi tersebut. Pengorganisasian dapat dilakukan dengan cara menentukan tugas apa yang harus dikerjakan, siapa yang harus mengerjakannya, bagaimana tugas-tugas tersebut dikelompokkan, siapa yang bertanggung jawab atas tugas tersebut, pada tingkatan mana keputusan harus diambil.

ð Pengarahan (directing) adalah suatu tindakan untuk mengusahakan agar semua anggota kelompok berusaha untuk mencapai sasaran sesuai dengan perencanaan manajerial dan usaha.



BAB III PENUTUP

Manajemen harus mempunyai gambaran yang jelas agar proses tersebut mempunyai tujuan yang jelas dan akan berfungsi secara benar.

KESIMPULAN

Manajemen adalah proses kegiatan dengan melalui orang lain untuk mencapai suatu tujuan tertentu serta dilaksanakan secara berurutan berjalan kea rah suatu tujuan.
Memiliki fungsi yaitu :
ð Perencanaan (planning)
ð Pengorganisasian (organizing) 
ð Pengarahan (directing)













DAFTAR PUSTAKA







ð  http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=pengantar+manajemen&source=web&cd=1&ved=0CCMQFjAA&url=http%3A%2F%2Fluluk.staff.gunadarma.ac.id%2FDownloads%2Ffiles%2F7568%2FPertemuan%2520pertama.ppt&ei=aoX4TseAB8LprQe-mJH9Dw&usg=AFQjCNE8gt3E1OkpwjPvgu5zfoT33wldsQ